Self Publishing, Alternatif Baru Menerbitkan Buku

By | 18 April 2019

Pernahkah anda mendengar istilah self publishing? Akhir-akhir ini berkembang sistem print on demand di percetakan. Print on demand merupakan cara mencetak buku sesuai dengan kebutuhan atau permintaan. Self publishing memberikan angin segar bagi para penulis untuk bisa menerbitkan buku sendiri. Oleh karena itu, sekarang semakin marak gelora membuat buku sendiri tanpa harus repot mengajukan ke penerbit. Tidak banyak penulis yang memahami tata cara untuk menghubungi penerbit. Dengan berkembangnya self publishing ini, maka semakin banyak buku baru yang terbit. Sulit? Tertu tidak.

Berikut seluk beluk menerbitkan buku melalui sistem print on demand.

1. Memiliki Karya

Tentu saja untuk bisa menerbitkan buku sudah harus memiliki karya sendiri. Karena tanpa adanya seleksi, editor maupun penilik isi buku, maka kandungan buku menjadi sepenuhnya tanggung jawab penulis. Jangan pernah sekali pun menjiplak tulisan milik orang lain meskipun hanya satu alinea. Jika ingin mengutip kalimat penulis lain tanpa perubahan, berikan tanda kutip dan diberikan keterangan isi kutipsn tersebut dari kalimat siapa.

Plagiator dapat dikenakan hukuman pidana. Oleh karena itu harus berhati-hati dalam membuat tulisan. Kemudian dipilih kalimat-kalimat yang tidak menimbulkan persepsi buruk serta jangan menggunakan kalimat yang berisi pelecehan ataupun buku yang bersifat provokatif dan berpotensi menimbulkan konflik.

2. Menyiapkan Desain Dan Konsep Sampul

Buku tak lepas dari sampul buku yang menarik. Meskipun ada istilah “jangan melihat buku dari sampulnya”, tetapi tak ayal sampul masih tetap menjadi sisi paling menarik dari sebuah buku. Bahkan tidak jarang penggemar buku yang hanya melihat sekilas judul dan sampul buku untuk kemudian tertarik membeli buku yang dijual dalam kondisi tersegel rapi. Perlu diingat untuk selalu menuliskan ringkasan isi buku di sampul belakang. Jika, memungkinkan sampul depan ditulis dialog stau kutipan isi paling spektakuler yang tertulis di dalam idi buku.

Hal ini akan menarik orang untuk mengupas keseluruhan isi buku. Jika anda mampu membuat kreasi sendiri desain sampul, maka tidak perlu repot minta tolong percetakan mendesain. Akan tetapi, bagi anda yang awam terhadap dunia grafis maka percetakan yang menyediakan layanan print on demand biasanya sudah memiliki layanan jasa desain sampul buku. Untuk ilustrasi di dalam isi buku ditekankan menjadi tanggung jawab penulis, kecuali penulis menghendaki dibantu pula ilustrasi dalam buku. Tentu saja ada biaya khusus untuk desain dan ilustrasi.

3. Menghubungi Percetakan

Setelah karya disiapkan, langkah berikutnya adalah menghubungi percetakan di mana kita akan membuat buku. Percetakan yang memiliki layanan self publishing cukup banyak tersebar. Anda bisa mencari di mesin pencarian dengan mengetikkan kata kunci print on demand maka akan keluar alamat-alamat percetakan self publishing.

Biasanya file fikirim dalam bentuk PDF, JPEG, atau Corel. Dapat juga, format Ms. Word, tapi format ini sering berubah tampilannya jika dibuka di komputer yang berbeda. Biaya administrasi biasanya dikenakan di muka, harus disiapkan. Pembayaran dapat secara tunai maupun transfer.

4. Mengurus ISBN

Sebagian percetakan print on demand sudah mempunyai layanan pengurusan ISBN, sehingga anda tinggal membayar jasa pengurusannya. Namun sebenarnya ISBN juga dapat diurus secara gratis ke perpustakaan nasional dengan mengikuti persyaratan dan tata cara yang sudah ditetapkan oleh perpustakaan nasional. Sebenarnya ISBN tidak mutlak harus dimiliki penulis buku, nomor tersebut merupakan nomor urut buku di sistem perpustakaan nasional sehingga buku yang memiliki ISBN dapat terdaftar di seluruh jaringan perpustakaan dan mudah untuk dicari koleksinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.